Jumat, 28 Oktober 2011

Panasnya Kursus Bahasa Inggris

Oleh: M. Abdullah

Bahasa Inggris, sebagai salah satu bahasa Internasional, membuat banyak orang berusaha sebisa mungkin untuk menguasainya. Momen itu memunculkan ide baru bagi mereka yang mempunyai jiwa dagang, dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan kursus bahasa Inggris. Mulai dari kursus-kursus non formil di rumah-rumah, sampai dengan institusi resmi di gedung-gedung bergengsi dengan menggunakan nama institut atau universitas.

Tak ayal, hal itu melahirkan pemain-pemain yang kian "kasar" guna mendapatkan profit setinggi-tingginya dari para konsumen yang haus akan bahasa Inggris. Di tangan mereka, bahasa Inggris menjadi barang dagangan yang sangat variatif. Dia bisa dibentuk dan diukir ibarat kayu Mahoni. Dia juga bisa dibingkai dan diberi hiasan warna-warni ibarat sebuah rumah yang mau dijual. Bisa juga diibaratkan kue ulang tahun yang ditempeli lilin-lilin kecil, yang mencoba memikat setiap orang yang melihatnya. Malah, supaya memasyarakat, bahasa Inggris mereka identikkan dengan PANCI yang biasa bertebaran di dapur-dapur.


Apa saja dilakukan agar dagangan laku

Ringkasnya, berbagai cara dilakukan supaya barang dagangan mereka laris manis, terjual habis. Karena terbukti para konsumen yang haus akan bahasa hiburan itu, tidak ragu-ragu dan tidak malu-malu merogoh kocek dalam-dalam setelah melihat dagangan yang menggiurkan tsb.

Para konsumen bisa dengan mudah membelanjakan hartanya, karena bahasa Inggris dikemas dalam buku yang sampulnya begitu menyilaukan mata. Bisa juga mereka terpana dengan gedung yang megah yang di dalamnya ada institusi yang mengajarkan bahasa Inggris, sehingga berapapun ongkos belajar, mampu mereka bayar. Ada juga yang terhipnotis oleh iming-iming tenaga marketing dan penampilan para kru lembaga tsb yang nampak memikat, sehingga baru menatap wajah mereka saja, seolah-olah sudah berada di Trafalgar Square, London. Lallu tanpa ragu merekapun mendaftar menjadi peserta kursus.


Horeee, aku udah ikut kursuuus....

Tapi setelah beberapa kali pertemuan, para "peserta didik" itu tidak kunjung datang lagi untuk belajar, karena beberapa faktor, bisa jadi bosan, jenuh, malas, sibuk, kecewa, dll, karena mereka baru sadar, bahwa mereka bukan berada di Trafalgar Square, melainkan di Pasar Tanah Abang.

Faktor-faktor internal (bosan, jenuh, malas, sibuk, kecewa dengan kwalitas lembaga kursus) para peserta kursus itulah yang lantas memunculkan ide cemerlang bagi para "pedagang" bahasa Inggris. Para saudagar itu lantas menempel embel-embel pada jualan mereka berupa :

- Garansi / Jaminan Belajar bahasa Inggris SAMPAI BISA atau SAMPAI LANCAR
- Waktu belajar fleksible, kapan saja belajar bisa
- Tempat belajar juga tidak harus dikelas, bisa di mana saja
- Gratis pengulangan tanpa dipungut biaya
- Tanpa harus menghafal grammar
- Tanpa harus menghafal vocabulary (kosa kata)
- Satu siswa diajar satu guru
- Suasana belajar yang menyenangkan (Fun)

Mengapa mereka berani memberikan slogan-slogan kursus bahasa Inggris seperti itu pada iklan mereka? Karena berdasarkan pengalaman, mereka yakin, hanya sedikit peserta kursus yang mau belajar sampai selesai. Rata-rata setelah SEPULUH kali pertemuan mereka tidak akan pernah datang lagi. Karena mereka yakin, para peserta itu hanya pada AWAL-AWALnya saja rajin datang.

Dari seratus peserta kursus bahasa Inggris, mungkin hanya sepuluh saja yang rajin datang sampai selesai. Sisanya tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Karena semangat hangat-hangat tai ayam itulah, para pengelola kursus berusaha menyedot duit para peserta kursus dengan membayar di muka. Sebab kalau membayar setengah atau seperempat dulu, pasti mereka tidak akan datang untuk membayar lagi, karena beberapa faktor di atas.


Add caption

Tapi untuk membayar lunas di muka bukanlah perkara enteng. Harus ada trik-trik khusus dan jurus-jurus ampuh supaya calon siswa mau membuka dan menumpahkan isi dompet mereka. Di antaranya adalah dengan merekrut tenaga marketing yang secara berkesinambungan diberi latihan-latihan menarik hati calon konsumen. Ditambah dengan REWARD berupa komisi dan bonus-bonus yang menyilaukan mata, seperti HP terbaru, sepeda motor terbaru, atau mungkin mobil terbaru, atau satu unit rumah bergaya mediterania, bila penjualan bisa menembus grafik yang ditargetkan.

Bila tidak mencapai target? Di sini PUNISHMENT berlaku. Mereka akan diberi tindakan berupa Surat Peringatan sampai dengan pemecatan. Akibatnya para marketing itu lantas berusaha sebisa mungkin menggaet konsumen dengan berbagai cara dan ragam. Berbagai janji dan iming-iming mereka utarakan. Apa pun yang diminta calon "pembeli" akan diiyakan dan akan dikabulkan, kelak, bila sudah membayar lunas program yang dibeli. Ditambah lagi calon klien ditakut-takuti bahwa waktu pendaftaran dibatasi, peserta kursus bahasa Inggris juga dibatasi.

Banyak yang termakan bualan para marketing kursus bahasa Inggris tsb, dan banyak juga yang hanya menyerahkan tanda jadi atau down payment. Efeknya bagi para konsumen yang terlanjur mendaftar dan membayar adalah kekecewaan karena setelah menyerahkan uang mereka berjuta-juta, yang mereka dapatkan jauh berbeda dari yang dijanjikan. Tidak heran kalau di beberapa milis, forum, bahkan facebook, blog, muncul tulisan-tulisan para siswa, yang curhat dengan kwalitas lembaga pendidikan semacam itu. Dan janji-janji seperti yang mereka iklankan pun jauh dari kenyataan. Mengapa?


Paket kursus bahasa Inggris kelas Capung dimark-up jadi Jumbo


Pertama, Jaminan belajar sampai lancar dan gratis pengulangan sampai bisa. Bait pertama bunyi iklan ini pun bertentangan sekali dengan kenyataan. Sebab setiap siswa yang belajar bahasa Inggris dijatah waktu belajarnya. Ada yang 4000 menit, 6000 menit sampai 10,000 menit. Bila menit sudah lewat, bagaimana pun belajar harus diusahakan selesai, sudah lancar atau masih gagap berbahasa Inggris.

Kedua, Waktu belajar kursus bahasa Inggrisnya fleksibel. Bisa belajar kapan saja. Jelas sekali mengada-ada, sebab jam buka kursusnya seperti jam buka kantor biasa. Sedangkan hari libur dan minggu tutup. Bagaimana dengan mereka yang ingin belajar di luar jam-jam tsb? Belum lagi jumlah pengajar yang tidak seimbang dengan jumlah muridnya, yang menyebabkan banyak siswa yang tidak bisa belajar karena tidak kebagian guru, karena seperti disebut di atas, satu siswa diajar oleh satu guru.

Ketiga, belajarnya bisa di mana saja. Ternyata ini bisa dilakukan dengan cara si peserta kursus menelpon ke lembaga kursus tersebut, bisa dari rumah, kantor, atau di pohon kelapa, dan tentu saja pulsanya ditanggung si peserta kursus. Dus, tambah lagi deh biaya, setelah menggelontorkan dana berjuta-juta banyaknya.

Keempat, gratis pengulangan. Tentu saja gratis, sebab rata-rata hanya 10 dari 100 siswa kursus bahasa Inggris yang datang lagi. Itu pun mereka yang dipaksa orangtuanya belajar, dipaksa istri / suami datang, atau yang takut rugi karena sudah terlanjur membayar lunas. Atau mereka yang putus asa, karena setiap kali hendak belajar, tidak pernah kebagian pengajar / guru. Jadi tidak heran, dari 400 siswa, bisa ditangani oleh 10 tenaga pengajar saja secara privat.

Kelima dan keenam, tanpa harus menghafal grammar dan vocabulary. Ini nonsense besar. Sebab kalau ada peserta kursus bahasa Inggris yang nggak ngerti-ngerti, tetap disuruh oleh mentornya untuk menghafalkan kosa kata-kosa kata dan hukum-hukum grammarnya. Jangankan orang kita, orang Amrik dan Inggris sekalipun tetap harus MENGHAFAL kosa-kata – kosa-kata bahasa mereka sendiri. Sungguh iklan yang MENYESATKAN!

Ketujuh, KWALITAS para instruktur / pengajar lembaga kursus bahasa Inggris semacam itu sama dengan guru-guru bimbel (bimbingan belajar) di lingkungan Anda. Mereka hanya menang dalam penampilan mereka yang dibuat sedemikian rupa supaya terkesan intelek. Padahal dalam hal grammar saja, banyak yang nilainya jeblok ketika diadakan tes. Walaupun para pengajarnya tidak lulus TOEFL, marketingnya berani menjanjikan calon siswa yang hendak belajar TOEFL. Walaupun lidah para instrukturnya masih terasa kaku bercakap-cakap dalam bahasa Inggris yang paling dasar sekalipun, marketingnya berani menarik siswa yang sudah sangat senior dalam berbahasa Inggris (karena sehari-hari si siswa tsb bergaulnya dengan orang Eropa dan Amerika). Walaupun setiap siswa diberi buku panduan yang tebalnya seperti kaki gajah bengkak (sudah kaki gajah, bengkak lagi), mereka tetap menerima murid yang usianya baru 3 tahun, yang tentu saja, belum mengerti membaca, apalagi menulis. Dan walaupun-walaupun yang lainnya yang tidak cukup saya tuliskan di sini.


Korban kursus bahasa Inggris Nasional Abal-abal

Melihhat kenyataan seperti itu, tentu saja belajar bahasa Inggris model begini jauh dari EASY and FUN, Mudah dan Menyenangkan, tapi malah buang-buang duit pemborosan.

Apakah kursus bahasa Inggris dengan model iklan dan mengamalkan modus operandi seperti itu harus dieliminasi, dan tidak layak kita ikuti? Tidak juga. Formula-formula yang dilantunkan pada iklan mereka bisa saja kita laksanakan. Hanya saja tidak perlu biaya berjuta-juta.

Sebetulnya hanya dengan SEPULUH kali pertemuan (secara privat / one on one) saja, peserta kursus bahasa Inggris sudah bisa memahami materi-materi dasar bahasa Inggris. Kalau biaya satu kali pertemuan Rp.50,000, berarti cukup dengan Rp.500,000,- para siswa bisa belajar dengan metode seperti itu. Mengenai gratis pengulangan, tanpa harus menghafal grammar dan kosakata, itu BISA DIATUR DENGAN JANJI TERLEBIH DAHULU, KARENA SIFATNYA HANYA KONSULTASI DAN NGOBROL-NGOBROL (conversation) BIASA. Para siswa pun tidak akan komplen macam-macam, karena mereka tahu, apa yang mereka dapatkan ternyata SAMA DENGAN, atau bahkan LEBIH BAGUS daripada lembaga kursus yang berada si gedung-gedung pencakar langit itu. Penulis sudah membuktikannya dan berhasil. Jadi kalau Anda merasa mampu mengajar bahasa Inggris, Anda pun bisa membuat iklan yang lebih bombastis daripada yang di atas.

Ingat! English is EASY TO SPEAK AND CHEAP! Bahasa Inggris itu MUDAH dan MURAH!
Ngomong-ngomong, dari mana penulis tahu mengenai lika-liku lembaga kursus bahasa Inggris yang punya bait-bait iklan, marketing dan instruktur yang heboh itu? Bukan hanya tahu, tapi malah pernah memberi training dan mengasuh para pengajar lembaga semacam itu, bagaimana memahami materi bahasa Inggris dan cara mengajarnya, sebelum akhirnya hengkang, setelah lebih dari dua tahun bekerja di dalamnya.

Selamat Mencoba!
Bacaan lainnya:
Memilih Tempat Kursus Bahasa Inggris 

Cara Praktis Belajar Bahasa Asing

Cara Praktis Menghafal Kosakata Asing 


13 komentar:

  1. Tips yang sungguh bermanfaat! Bahasanya juga enak dibaca, tajam dan terpercaya. Memang harus hati-hati memilih kursus bahasa Inggris. Maju terus bro!

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas tipsnya mas Abdullah. Saya akan berhati-hati memilih kursus bhs Inggris sebab saya pernah diteflon terus oleh marketing kursus rupanya memang seperti itu ya caranya mendapatkan mangsa.

    BalasHapus
  3. blognya dah 2 tahun. telat wa bacanya. ilustrasinya heboh. boleh copas gak gan?

    BalasHapus
  4. sangat bermanfaat sekali informasinya,.. kita memang harus benar0benar selektif dalam memilih lembaga bimbingan belajar kursus,... semoga tambah sukses,..



    by : kursus bahasa inggris privat | Tutor.co.id

    BalasHapus
  5. aq tau ini menyindir lembaga kursus nasional yg bernama EASY SPEAK.. memank benar aq udh pernah dtg ke kantornya dan nanya2 . awalnya dia promosi persis seperti yg di ceritakan di atas, dan sayapun tertaruk awalnya, tp setelah saya tanya brp biayanya..??? saya lgsg berubah pikiran... karena gk sesuai dengan penghasilan.. biayanya 15juta.. gila. aq lgsg berubah pikiran saat itu juga. yg awalnya berbunga2 karena bujuk rayunya..hehe tp mungkin kalo aq orang kaya..gk tau ya endingnya..ckckc

    BalasHapus
  6. Kalo saya dulu pernah ditawari hadiah pulpen dan jam tangan. Tapi saya tolak, takut nanti kena hipnotis. Aya-aya wae

    BalasHapus
  7. Memang tidak masuk akal kalau dipikir. Masak 20 tutor mau mengajar 200 orang sekaligus secara one on one (satu tutor satu studen). Memangnya dalam satu hari itu mereka bekerja berrapa jam? Kejra 24 jam pun masih gak cukup buat melayani yang kursus sebanyak itu. Belum lagi ruangannya yang tentu gak akan cukup. Tidak heran kalau banyak yang kecewa, karena tidak terlayani. Lebih baik duitnya disalurkan ke yayasan yatim piatu daripada memperkaya bos-bos kursus macam itu.

    BalasHapus
  8. wk wk wk.... inilah negara yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat yang kreatip menciptakan lapangan kerja. Kalau merasa dikecewakan, silakan menghubungi pak polisi. Yang kuat duitnya pasti menang. wk wk wk....

    BalasHapus
  9. Two thumbs up buat mas bro!

    BalasHapus
  10. Benar-benar hot dan menyengat! Harus disebarkan untuk menolong masyarakat supaya terhindar dari penipuan!

    BalasHapus
  11. Yah begitulah hidup, tak semudah yang dibayangkan.

    BalasHapus
  12. Saya setuju dengan kupas tuntas mas Abdullah. Kenapa harus ada Garansi pengulangan GRATIS, ada GARANSI seumur hidup? Kalau memang English is easy dan sudah diberi ratusan jam, puluhan ribu menit paket belajar. Kenapa harus ada kata"mengulang"? Terus apa yang di ajarkan selama sekian banyak pertemuan? Apakah siswa-siswa kursus masih dijadikann bahan percobaan?. Pengalaman saya ngajar Bahasa Inggris dengam menggunakan"Mind Mapping" baik otak peserta dan Tata Bahasa First Language dan second language dengan pendekatan NPS= Neurol-Psycho-Socio. Siswa saya hanya membutuhkan waktu paling lama 5 pertemuan untuk yang tamat SMP, SMA dan yang pernah Kuliah sementara 8 pertemuan untuk yang tdiak pernah sekolah sama sekali. Saya tidak menggunakan sistem level. Tidak perlu level itu, level ini atau level ono. Ribuan siswa mulai dari yang tidak pernah sekolah hingga yang bergelar S2 dan S3, tidak pernah complain alias kecewa. Sebenarnya, berhasilnya seseorang menguasai Bahasa Inggris bukan karena tempat kursusnya. Kursus itu hanyalah sebuah nama, tapi yang membuat siswa berhasil adalah konsep pembelajaran Bahasa Inggris yang tepat dan so pasti Guru yang handal. Saya kwatir Mas Abdullah ini juga hanya mencurahkan unek-unek kekecewaan baik sebagai “Guru yang tidak berhasil” atau “ Sisiwa yang tertipu” dengan Iming-iming “Pengulangan GRATIS”, GARANSI BELAJAR SEUMUR HIDUP” hmmm. Orang Indonesia cenderung”Panas-Panas Tai Ayam dan suka mengeluh. Setelah saya mempelajari Blog anda, kok Cuma panas-panas tai ayam juga. Ini cuma unek-unek kekecewaan kegagalan (gagal itu, gagal ini kali yee), kok Cuma 2 artikel kuno?

    BalasHapus
  13. Kalau menurut saya kok tulisan ini berlebihan ya. Saya pernah bekerja sebagai pengajar di tempat kursus yang dimaksud tersebut. Dari situ malah saya banyak dapat ilmu terapan bahasa inggris yang selama ini cuma dikasih teorinya saja selama belajar 4 tahun di kampus saya. Training dan tes berkala untuk pengajar yang diwajibkan disitu dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan kompetensi pengajar itu sendiri. Sewaktu saya bekerja di salah satu cabang ES klien saya beragam, termasuk para karyawan dengan level manager ke atas yang nyaman dengan sistem pembelajaran yang fun dan fleksibel. Saya juga sering bertugas untuk mengajar di beberapa perusahaan besar baik BUMN maupun swasta yang seleksinya lumayan ketat. Alhamdulillah saat ini saya dipercaya menjadi asisten General Manager di salah satu group perusahaan terbesar di Indonesia. Salah satu faktor saya bisa diterima di perusahaan ini karena sewaktu interview saya menceritakan pengalaman kerja saya sebagai pengajar di tempat kursus tersebut. Selama saya menjadi pengajar, saya juga ikut belajar untuk dapat berkomunikasi dengan baik dengan banyak client dengan latar belakang yang berbeda. Kemampuan berkomunikasi yang baik sudah menjadi standar bila mau bekerja di tempat kursus tersebut. Jadi bukan cuma pinter dan TOEFL di atas 600 kemudian sudah pasti bisa menjadi pengajar. Akan lain ceritanya kalau saya memilih menjadi dosen atau guru di sekolah internasional mungkin job desc saya hanya sebatas mengajar pelajaran sekolah dan kurikulum yang itu-itu saja. Saran saya, kecewa dengan perusahaan lama boleh. Tetapi janganlah memberikan tulisan yang tidak proporsional, karena segala sesuatu ada plus minusnya. Saya pilih ambil plusnya hingga jadilah saya yang sekarang seperti ini. Rezeki sudah ada yang mengatur kok selama kita punya kompetensi dan terus berusaha pasti bisa dapat yang terbaik. Setuju?

    BalasHapus